DPRD Kalteng Dukung Wacana WFH untuk Tekan Konsumsi Energi di Tengah Dinamika Global

DPRD Kalteng Dukung Wacana WFH untuk Tekan Konsumsi Energi di Tengah Dinamika Global

PALANGKA RAYA – Wacana penerapan work from home (WFH) kembali mendapat perhatian dan dukungan dari daerah. 

Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah, Muhammad Ansyari, menilai kebijakan tersebut masih relevan diterapkan di tengah dinamika global pada sektor energi yang berdampak hingga ke dalam negeri.

Menurut Ansyari, kondisi geopolitik dunia saat ini perlu disikapi secara bijak oleh pemerintah, termasuk dalam upaya menjaga stabilitas konsumsi energi nasional. 

Gangguan pada rantai pasok energi global dinilai berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan bakar di berbagai daerah.

“Kondisi geopolitik dunia saat ini perlu disikapi dengan bijak. Gangguan pada rantai pasok energi berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan bakar, sehingga diperlukan langkah-langkah adaptif untuk menekan konsumsi, salah satunya melalui pengurangan mobilitas pekerja,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, penerapan WFH dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, khususnya dari aktivitas transportasi harian para pekerja dan aparatur sipil negara (ASN).

Meski demikian, Ansyari menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak harus diterapkan secara menyeluruh.

Menurutnya, penerapan secara terbatas tetap dapat memberikan dampak positif terhadap efisiensi energi tanpa mengganggu pelayanan publik maupun produktivitas kerja.

“Penerapan WFH tidak harus dilakukan secara menyeluruh. Skema terbatas, misalnya satu hari dalam sepekan, dinilai sudah cukup membantu mengurangi mobilitas harian, khususnya bagi aparatur sipil negara (ASN), sekaligus menekan konsumsi bahan bakar,” tambahnya.

Dia menilai, situasi global saat ini tidak bisa diabaikan karena gangguan distribusi energi dunia dapat berdampak langsung terhadap kondisi dalam negeri.

"Oleh sebab itu, pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan mulai mempertimbangkan berbagai langkah adaptif guna menghadapi kemungkinan terjadinya tekanan pada sektor energi," pungkasnya.[deni]
Lebih baru Lebih lama