Ekspektasi Orang Tua vs Realita di Sekolah

SEBAGAI guru anak berkebutuhan khusus, seringkali saya dihadapkan dengan tuntutan perkembangan murid. Sudahkah mereka bisa menulis, membaca, atau bahkan mengancing baju mereka sendiri. Ekspektasi orang tua yang terlampau tinggi kadang juga tidak kalah membebani. Keinginan yang begitu banyak sedang kemampuan anak tidak serta merta dengan ajaibnya bisa langsung mempuni.

Terkadang anak datang ke sekolah dengan kondisi yang kurang baik. Belum mandi, cuci mukanya kurang bersih, dan lain sebagainya yang bisa mengurangi rasa nyaman anak ketika belajar. Anak akan mudah gerah, sering garuk-garuk dan mudah berkeringat yang kemudian berimbas pada aktivitas belajarnya. Anak jadi sulit berkonsentrasi dan tidak mau diam. Oleh karena itu, jika ingin anak berkembang dengan baik, kerja sama antara guru dan orang tua sangatlah diperlukan.

Orang tua harus memahami terlebih dahulu bagaimana kondisi anak. Apa saja kesulitan belajarnya dan apa minatnya. Ketika orang tua memiliki ekpektasi, hal tersebut tentunya tidak terlampau terlalu jauh sehingga membebani guru terlalu banyak. Contohnya, anak bahkan belum mampu duduk diam dan memegang pensil dengan benar, namun orang tua sudah menginginkan anak untuk bisa menulis begitu ia masuk sekolah. Keinginan tersebut tentu saja bukan hal yang mudah untuk diwujudkan dalam waktu singkat.

Sebagai guru, kami biasanya memiliki goals untuk setiap anak yang sering kami sebut dengan tujuan jangka pendek. Seperti dalam satu minggu anak sudah mampu menunjukkan angka 1 dan 2 menggunakan jari, atau dalam 10 hari anak mampu memegang pensil dengan benar dan duduk diam selama 5 menit. Lain halnya dengan tujuan jangka panjang seperti keinginan orang tua, misalkan dalam 1 semester anak sudah mampu menulis dengan menyambungkan garis putus-putus.

Hal tersebut menunjukkan bahwa setiap tahap perkembangan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kerjasama dan pengertian dari orang tua sangatlah diperlukan. Ketika anak di sekolah diajarkan untuk fokus, maka sebaiknya orang tua di rumah juga mengajarkan hal yang sama agar anak bisa lebih mudah terbiasa. Sehingga anak datang ke sekolah dalam keadaan sudah siap belajar karna orang tua di rumah juga sudah membimbing dengan baik.

Karna sejauh pengalaman saya mengajar, faktor penghambat perkembangan anak justru lebih sering datang dari kurangnya komunikasi antara guru dan orang tua. Entah karna orang tua yang tidak mau tau dan malas bertanya, atau memang karna guru yang juga malas menjelaskan kepada orang tua bagaimana kondisi anak di sekolah dan bagaimana sebaiknya orang tua membimbing anak di rumah. Semoga kedepannya hal tersebut bisa diperbaiki dan perlahan membaik agar proses belajar mengajar serta tumbuh kembang anak bisa berjalan secara optimal.[]


Happy Ika Kurniawati
Penulis adalah Guru di SLB Negeri Marabahan yang masih terus belajar dalam memahami kebutuhan peserta didik luar biasa yang memiliki karakteristik yang unik. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua orang.
loading...