Wejangan 'ngabuburit': Kecipak Ikan, Riang Domba, dan Hidangan Berbuka

Wejangan 'ngabuburit': Kecipak Ikan, Riang Domba, dan Hidangan Berbuka

Penulis: Ahmad Rifandi

MENTARI sore di Balikpapan Timur tidak pernah main-main. Teriknya menyengat, memantul di aspal jalanan yang menghubungkan pusat kota dengan kawasan pinggiran. Namun, cerita berubah ketika roda kendaraan berbelok ke kiri, tak jauh dari pintu keluar Tol Manggar.

Hanya berjarak sekira satu kilometer menyusuri jalan akses yang lebih kecil, hiruk-pikuk kota minyak seolah luruh perlahan. Di sudut itu, sebuah oasis menenangkan menanti. Deboekit Riverside Resort namanya.

Bagi warga Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, mencari tempat untuk sekadar membuang waktu menunggu azan Maghrib—atau yang populer disebut ngabuburit—seringkali berakhir di pusat perbelanjaan atau pantai yang lazim. Tetapi, di tepian Sungai Manggar ini, definisi ngabuburit menemukan bentuknya yang lain. Ini tentang kepulangan pada alam.

Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di satu sudut, sekumpulan domba dengan bulu tebal tampak antusias menyambut pengunjung, sementara di sudut lain, seseorang duduk tenang memegang joran pancing, menatap air kolam, menanti sambaran ikan sembari merapal zikir atau sekadar melamunkan menu berbuka.

Memasuki kawasan Deboekit, pengunjung tidak langsung disuguhi kemewahan artifisial, melainkan lanskap yang dirancang menyatu dengan topografi asli. Ini lah kawasan wisata terpadu yang mencoba mengawinkan konsep rekreasi alam dengan olahraga air.

Devi Indah Noviarini, Direktur Deboekit Riverside Resort, memiliki visi yang melampaui sekadar bisnis penginapan. Saat ditemui di sela-sela kesibukannya memantau persiapan operasional, Devi menjelaskan bahwa resort ini adalah jawaban atas kegelisahan akan minimnya ruang publik yang berkualitas dan edukatif di Balikpapan.

“Deboekit hadir untuk menjawab kebutuhan akan destinasi wisata yang berkualitas, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Sungai Manggar memiliki potensi besar yang ingin kami angkat melalui konsep wisata berkelanjutan,” ujar Devi.

Kalimat wisata berkelanjutan seringkali menjadi jargon kosong dalam industri pariwisata, namun di Deboekit, upaya itu terlihat dari tapak yang mereka tinggalkan. Konsep eco-resort yang diusung bukan sekadar tempelan. Mereka melakukan restorasi lahan, memastikan tanah yang dipijak kembali produktif dan bernilai ekonomi.

Pembangunan resort ini menitikberatkan pada keseimbangan segitiga pariwisata masa kini: pelestarian alam, kenyamanan wisata, dan keberlanjutan jangka panjang. Hal ini terlihat dari bagaimana bangunan-bangunan villa tidak mendominasi alam, melainkan menyusup di antaranya.

Ada 22 unit kamar yang tersedia, mulai dari tipe Superior, Deluxe, hingga yang lebih privat seperti Honeymoon Suite dan Family Villa. Desain tematik, mengambil inspirasi dari kekayaan vernakular Kalimantan Timur. Ornamen kayu mendominasi, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan beton-beton kaku di pusat kota Balikpapan.

Tarif yang ditawarkan—mulai dari Rp800.000 hingga Rp3.500.000 per malam—menegaskan segmen pasar yang mereka bidik: keluarga yang merindukan privasi, pasangan yang mencari romantisme, hingga korporasi yang butuh ruang berpikir jernih.

Namun, kemewahan ini tidak lantas membuat Deboekit menjadi menara gading yang terisolasi dari ekosistem sekitarnya. Pada Ramadhan tahun ini, pengelola memberikan diskon 50 persen untuk semua kamar dan villa, menjadikan puasa lebih tenang di destinasi ini.

Di Antara Bekantan

DAYA tarik utama kawasan ini bukanlah kasur empuk di dalam villa, melainkan apa yang ada di luarnya. Sungai Manggar, yang selama ini mungkin hanya dikenal sebagai jalur transportasi air atau habitat buaya muara, disulap menjadi arena sport tourism yang menjanjikan.

Penyuka adrenalin dapat memacu jet ski membelah sungai, sementara mereka yang lebih suka ketenangan bisa memilih paddling atau susur sungai menggunakan kapal wisata. Saat matahari mulai condong ke barat, momen magis sering terjadi. Di dahan-dahan pohon bakau yang rimbun di seberang sungai, kawanan Bekantan (Nasalis larvatus) kerap menampakkan diri.

Primata endemik Kalimantan berhidung panjang ini menjadi atraksi alami yang tak bisa direkayasa. Melihat mereka melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan latar langit senja adalah kemewahan visual yang sulit dinilai dengan rupiah.

Aisyah Akmal, yang menjabat sebagai pengelola sekaligus ujung tombak pemasaran Deboekit, menekankan bahwa pengalaman berinteraksi dengan alam inilah yang menjadi selling point utama.

“Selain penginapan, kami menghadirkan fasilitas pendukung wisata alam. Area khusus untuk menikmati panorama matahari terbenam di Sungai Manggar dirancang agar pengunjung dapat menikmati keindahan alam sekaligus berinteraksi langsung dengan lingkungan,” tutur Aisyah.

Tidak hanya di air, di darat pun aktivitas tak kalah hidup. Menjelang berbuka, area peternakan mini menjadi magnet bagi anak-anak. Memberi makan domba atau mencoba menunggang kuda menjadi terapi tersendiri setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Interaksi dengan hewan, menurut banyak studi psikologi, mampu menurunkan tingkat stres—sebuah "wejangan" tanpa kata yang diberikan Deboekit bagi kaum urban yang lelah.

Salah satu aspek paling menarik dari Deboekit—yang mungkin luput dari pandangan wisatawan kasual—adalah sistem pengelolaan limbah dan pangannya. Di balik dapur restoran yang sibuk, terdapat siklus kehidupan yang diputar dengan cermat.

Resort ini menerapkan prinsip zero waste yang cukup radikal. Devi menjelaskan bahwa sampah organik dari restoran tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). “Sampah organik kami olah menjadi pakan maggot. Konsep ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung dan masyarakat,” jelasnya.

Maggot-maggot ini kemudian menjadi pakan bagi ikan dan unggas yang dibudidayakan di area resort. Ikan-ikan inilah yang kelak kembali ke meja makan pengunjung. Konsep farm to table ini menjamin kesegaran bahan baku. Pengunjung bahkan bisa memancing sendiri ikan bandeng, barramundi, atau kakap putih dari kolam, untuk kemudian dimasak oleh koki resort.

Dampak sosialnya pun terasa. Dari sekitar 30 tenaga kerja yang direkrut, 30 persennya adalah warga lokal sekitar Manggar. Pengelolaan area parkir bahkan diserahkan sepenuhnya kepada warga dan pengurus masjid setempat. Ini adalah model bisnis inklusif yang mencegah friksi sosial, menjadikan masyarakat sebagai "pagar hidup" yang ikut menjaga keberlangsungan bisnis resort.

Berbuka

KETIKA matahari akhirnya tenggelam dan gema azan Maghrib terdengar sayup-sayup dari masjid sekitar, suasana di Deboekit berubah menjadi lebih hangat. Lampu-lampu gantung mulai menyala, memantul di permukaan air sungai yang tenang.

Di bulan Ramadan ini, Aisyah Akmal dan timnya telah menyiapkan skenario berbuka puasa yang memanjakan lidah. Menyajikan sebuah perayaan kuliner.

“Kami menghadirkan Special Buffet Buka Puasa dengan dua pilihan paket,” kata Aisyah mempromosikan.

Untuk mereka yang ingin pengalaman paripurna, tersedia Package 1 seharga Rp195.000 nett per orang. Paket ini adalah kunci akses menuju Food Star—menu andalan yang berganti setiap harinya, antara Kambing Guling yang berlemak gurih atau Barbeque yang kaya rasa asap.

Bagi yang memiliki anggaran lebih ketat namun tetap ingin menikmati suasana, Package 2 ditawarkan seharga Rp145.000 nett per orang. Pilihan ini tetap memberikan akses ke deretan menu prasmanan nusantara, meski tanpa akses ke menu Food Star.

Rotasi menu harian menjadi strategi agar pengunjung tidak bosan. Hari ini mungkin lidah dimanjakan dengan pedas gurihnya Ayam Taliwang atau Ikan Asam Padeh khas Sumatera. Esoknya, giliran Ayam Bakar Solo yang manis legit atau Ayam Tangkap Aceh yang kaya rempah daun kari.

Takjil, tentu saja, menjadi pembuka wajib. Deretan kurma, aneka gorengan hangat, hingga bubur manis seperti bubur sumsum dan kolak pisang tersaji rapi. Di sudut lain, gubuk-gubuk makanan (food stall) menyajikan makanan yang lebih ringan namun mengenyangkan, seeprti Bakso Malang dengan kuah kaldu bening, Soto Ayam yang segar, hingga Sop Tom Yam bagi penyuka rasa asam pedas.

Semua itu ditutup dengan kesegaran Es Dawet atau Es Timun Suri yang membilas dahaga seharian.

“Kami juga memberikan promo Early Bird untuk pemesanan periode awal Ramadan, serta promo Buy 5 Get 1 atau Buy 10 Get 2,” tambah Aisyah. Sebuah strategi klasik namun efektif untuk menarik rombongan keluarga besar atau acara buka bersama kantor.

Restoran apung menjadi lokasi favorit. Menyantap hidangan sembari merasakan goyangan lembut ombak sungai, ditemani angin malam yang membawa aroma bakau, memberikan sensasi spiritual sekaligus gastronomis yang berbeda.

Dari gempuran pembangunan ibu kota baru yang mungkin akan mengubah wajah Kalimantan Timur secara drastis, keberadaan tempat seperti Deboekit menjadi penting. Ia menawarkan jeda. Ia menawarkan ingatan bahwa di balik deru mesin pembangunan, masih ada sungai yang mengalir tenang, ada bekantan yang butuh rumah, dan ada manusia yang butuh kembali merawat hubungannya dengan alam.

Maka, jika berada di Balikpapan dan mencari tempat untuk menepi sejenak di bulan suci ini, arahkan kendaraan ke timur. Di sana, di tepi Sungai Manggar, wejangan itu tidak disampaikan lewat kata-kata, melainkan lewat desau angin, kecipak ikan, dan hangatnya hidangan berbuka yang dimasak dengan kesadaran penuh akan lingkungan.[]

Lebih baru Lebih lama