SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur semakin gencar memperkuat edukasi publik dalam penanggulangan HIV/AIDS. Selain memperluas layanan kesehatan melalui 272 fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan dan obat antiretroviral (ARV) gratis, Pemprov Kaltim juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan memahami cara penularan HIV.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan edukasi menjadi bagian krusial dari strategi pencegahan, selain pengobatan.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa HIV bisa dikendalikan. Pemeriksaan tersedia luas, pengobatan gratis. Yang penting mereka mau memeriksakan diri,” ujarnya.
Upaya edukasi difokuskan pada pengurangan stigma yang masih kerap dialami oleh Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Banyak masyarakat masih memiliki pemahaman keliru tentang HIV, seperti menilai bahwa virus dapat menular melalui sentuhan, berbagi makanan, atau kegiatan sosial sehari-hari.
“HIV tidak menular lewat sentuhan atau berbagi makanan. Edukasi ini penting agar masyarakat tidak takut berinteraksi dengan ODHA dan stigma perlahan bisa dihapus,” jelas Jaya.
Selain itu, Dinas Kesehatan Kaltim aktif memberikan informasi mengenai perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dan penggunaan jarum suntik bersama, serta cara menghindarinya. Program ini disasar ke sekolah, komunitas, kelompok pemuda, dan daerah-daerah yang rawan kasus HIV.
Pemprov Kaltim juga menyoroti pentingnya perlindungan kelompok rentan, termasuk ibu hamil yang terdiagnosis HIV. Penanganan khusus dilakukan agar virus tidak menular ke bayi, yang menjadi salah satu prioritas utama dalam menekan kasus baru.
“Kami memberikan layanan khusus bagi ibu hamil dengan HIV. Program pencegahan penularan ke bayi ini menjadi fokus kami agar generasi berikutnya tetap sehat,” kata Jaya.
Dengan menggabungkan edukasi, layanan kesehatan, dan pengobatan yang mudah diakses, Pemprov Kaltim berharap masyarakat semakin terbuka dan aktif melakukan pemeriksaan dini. Langkah ini juga diharapkan dapat menurunkan jumlah kasus baru dan memastikan ODHA dapat hidup sehat tanpa diskriminasi.
“Penanggulangan HIV bukan hanya soal obat, tetapi juga soal kepedulian sosial, pemahaman, dan perubahan perilaku masyarakat. Semakin banyak yang sadar, semakin cepat kita bisa menekan penularan,” tegas Jaya.
Melalui pendekatan edukasi dan layanan yang terpadu, Kalimantan Timur ingin menjadi provinsi yang mampu mengendalikan HIV/AIDS sekaligus membangun masyarakat yang inklusif dan peduli terhadap kesehatan publik.[han911/adv/diskominfokaltim]
Tags
kaltim
