Asing-Asingnya

MASING-MASING orang hanya peduli pada dirinya saja. Cuma diri sendiri yang diperhatikan - difokuskan, orang lain diabaikan. Tidak ada kerjasama, maunya sendiri-sendiri, bahkan saling meniadakan – mengalahkan, hanya untuk mencari keuntungan pribadi, itulah makna asing-asingnya.

Sendiri-sendiri, mungkin begitu arti harfiah yang mendekati. Diambil dari kata asing – orang lain yang tidak dikenal. Sekali pun sangat kenal - akrab, namun karena tidak ada kerjasama dan kebersamaan, akhirnya seperti orang lain. Ketika yang diharapkan kekompakan dan kolaborasi, namun yang terjadi justru sebaliknya - persaingan, saling menonjolkan kepentingan pribadi. Hanya ingin menangnya saja, tanpa memperhatikan orang lain.

Kalau sudah menjadi satu entitas, baik satu keluarga, satu tim, satu rukun tetangga, satu daerah atau satu bangsa, utamakan kebersamaan, jangan sendiri-sendiri. Prioritaskan kepentingan bersama di atas keinginan dan ambisi pribadi. Bersama-sama saja, belum tentu dapat menjawab berbagai persoalan yang sangat banyak dan berat, apalagi sendiri-sendiri. Jangan jadikan orang lain yang sudah dikenal – apalagi sangat dikenal sebagai orang asing. Bila perlu, yang asing yang belum dikenal, harus didekati agar menjadi kawan. Karena di masa sulit dan penuh tantangan ini, berkolaborasi jauh lebih baik dari pada sendiri-sendiri.

Jangan takut berkawan dengan siapa pun. Jangan sungkan membangun kerjasama. Sekecil apapun potensi kawan, kolaborasikan dengan berbagai potensi lainnya, pasti membuahkan hasil yang lebih baik. Waspada boleh, tapi jangan mudah curiga, karena hanya akan menghambat kemajuan. 

Perlu keberanian dan kesungguhan untuk dapat menjadi penghubung dari berbagai potensi yang terserak. Tidak banyak yang mau melakukan, karena hasilnya bukan untuk diri sendiri – namun untuk banyak orang. Ketika individualisme begitu kuat, maka tidak mudah menyatukan orang-orang yang berbeda, yang tumbuh justru kecurigaan dan persaingan.

Ungkapan ini mengkritik sifat menonjolkan diri sendiri dan melupakan kebersamaan. Masyarakat berbudaya dan beradab, akan mengutamakan kerjasama dan kebersamaan – bukan persaingan. Bila ada sifat – watak yang hanya menonjolkan kepentingan pribadi – melupakan kolektivitas dan kebersamaan, boleh jadi belum berbudaya – kurang beradab. Tidak akan ada kemajuan kalau semua pada asing-asingnya.[]

Paribasa dan Ungkapan Banjar, refleksi budaya oleh Noorhalis Majid


loading...