BATULICIN — Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Tanah Bumbu, nuansa keberagaman budaya tampak begitu kental. Salah satunya terlihat dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Nusantara.
Fenomena ini menjadi wujud nyata akulturasi budaya, di mana beragam tradisi dari berbagai suku berpadu dan hidup berdampingan secara harmonis di Bumi Bersujud.
Tidak hanya itu, Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, juga terlihat mengenakan busana adat Bugis modern yang semakin memperkuat identitas lokal dalam balutan sentuhan kekinian. Hal ini sekaligus mencerminkan bagaimana akulturasi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ketua Pelaksana peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Tanah Bumbu, Sekretaris Daerah, Yulian Herawati, menjelaskan bahwa penggunaan busana adat bukan sekadar seremonial, melainkan memiliki makna mendalam sebagai simbol keberagaman dan persatuan.
Menurutnya, Tanah Bumbu merupakan miniatur Indonesia karena dihuni oleh beragam suku dan budaya. Tidak hanya suku Bugis, Banjar, dan Jawa, tetapi juga terdapat masyarakat dari Nusa Tenggara Timur, Bali, Lombok, hingga Sunda yang hidup berdampingan secara harmonis. Inilah yang menjadikan akulturasi budaya tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
“Penggunaan baju adat ini adalah salah satu bentuk pelestarian budaya sekaligus simbol bahwa Tanah Bumbu memiliki keberagaman yang luar biasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa nilai akulturasi tersebut juga tercermin dalam rangkaian kegiatan budaya, salah satunya melalui pesta pantai Pesona Budaya Mappanre Ri Tasi’e. Dalam kegiatan ini, tidak hanya ditampilkan budaya Bugis sebagai budaya lokal, tetapi juga dihadirkan karnaval budaya yang menampilkan berbagai adat dari seluruh daerah di Kabupaten Tanah Bumbu.
Dalam karnaval tersebut, peserta mengenakan pakaian adat khas masing-masing daerah untuk dipamerkan dalam parade. Bahkan, terdapat penilaian khusus untuk kategori busana adat terbaik, yang semakin mendorong semangat pelestarian budaya di tengah masyarakat.
Yulian Herawati juga menegaskan bahwa kekayaan budaya yang beragam ini menjadi salah satu daya tarik utama daerah. Di tengah arus modernisasi dan pengaruh budaya luar, akulturasi budaya lokal justru menjadi identitas kuat yang tidak dimiliki semua daerah.
“Budaya itu tidak bisa ditemukan di sembarang tempat. Kalau ingin melihat keberagaman budaya Nusantara, salah satu tempatnya ada di Tanah Bumbu. Mau mencari budaya apa saja, semua ada di sini,” pungkasnya.
Melalui perayaan ini, diharapkan semangat persatuan dalam keberagaman dan akulturasi budaya terus terjaga, sekaligus memperkuat identitas Tanah Bumbu sebagai miniatur Indonesia yang kaya akan budaya Nusantara.[ade]
Tags
tanah bumbu
