Ekspor Batubara dan Udang Kalsel Masih Menjanjikan

BANJARMASIN, MK - Meskipun Tiongkok beralih menggunakan energi terbarukan, namun tren impor batubara negeri tirai bambu ini masih meningkat. Ini dikarenakan industri kecil di Tiongkok masih bergantung pada pemanfaatan batu bara. 

Asisten Analis Kelompok Perumusan KEKDA Wilayah dan Provinsi Bank Indonesia, Annisa Elma Nabila menilai peluang ekspor batu bara ke negara-negara berkembang termasuk Tiongkok cukup tinggi. 

Karena, lanjutnya, 80 persen dari pemintaan ekspor batu bara oleh Tiongkok, India, serta negara di kawasan Asia Tenggara cukup tinggi.
 
“Artinya peluang ekspor dan prospek batubara termasuk Kalsel sangat menjanjikan.Kalau prediksi kita ke depan batu bara masih punya peranan penting di Tiongkok. Mereka masih tetap butuh impor dari Indonesia,” kata Annisa Elma Nabila saat berbicara dalam Forum Refreshment Media Bank Indonesia di Banjarmasin, Kamis siang (19/11/2020).

Lebih jauh, papar Elma, pulihnya perekonomian Tiongkok dan AS  menjadi pendorong perbaikan ekspor luar negeri produk industri di Jawa, Sulawesi, Papua dan Sumatera. 

Sementara tekanan ekspor  pertambangan Kalimantan masih berlanjut, demikian halnya ekspor jasa di Bali dan Nusa Tenggara.

Terdapat dua provinsi yang secara year on year (yoy) dapat tumbuh positif, sedangkan tujuh provinsi lainnya yang menurun (termasuk Bali). 32 persen ekspor batu bara Indonesia dikirimkan ke Tiongkok, 27 persen ke India dan Asia Tenggara sekitar 22 persen.

Sementara Asia Timur seperti Korea Selatan, Jepang dan Taiwan yang masuk dalam kategori negara maju sekitar 18-19 persen.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), proyeksi produksi batu bara 2020-2024 mengalami peningkatan. 

Di 2020 produksi ditargetkan sebesar 550 juta ton dengan alokasi ekspor 395 juta ton dan domestik 155 juta ton. Di 2021 produksi ditargetkan sebesar 609 juta ton yang terbagi untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 168 juta ton. Kemudian 2020 sebesar 618 juta ton untuk ekspor 441 juta ton dan domestik 177 juta ton.

Ia mengatakan, sektor pertambangan dan industri pengolahan diperkirakan akan meningkat sejalan dengan outlook harga komoditas global yang membaik. Apalagi di Kalsel sendiri PT. Arutmin telah memperoleh perpanjangan pertama Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dari pemerintah, yang berdampak pemulihan sektor tambang akan membaik dan berprospek untuk ekspor.

Bagaimana sektor di luar pertambangan? Data Bank Indonesia, ekspor udang di Kalsel tahun 2019 tercatat senilai 14,47 juta dolar AS atau 1,06 persen ekspor nasional. 

Sebanyak US$8,80 juta atau 0,88 persen telah dihasilkan selama ekspor Januari-Oktober 2020. total produksi udang dari tiga kelompok pembudidaya udang sebanyak 334,9 ton atau senilai Rp26,7 miliar di tahun 2019. 

Saat ini terdapat 12 Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bidang perikanan udang, industri kreatif dan makanan olahan yang dibantu BI Kalsel dalam peningkatan kapasitas produksi dan kegiatan talkshow untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada UMKM.

“Mengapa Bank Indonesia mendorong pengembangan UMKM dalam artian luas, ini semata-mata agar untuk mendukung pencapaian tugas BI dalam menjaga stabilitas moneter melalui pengendalian inflasi dari sisi suplai. Nah Kalsel sendiri potensi yang dikembangkan itu luar biasa, salah satunya adalah udang,” ujar Aryo Wibowo T.P, Analis Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, KI dan Syariah Bank Indonesia.

Aryo menyebutkan total produksi udang dari tiga kelompok pembudidaya udang sebanyak 334,9 ton atau senilai Rp26,7 miliar di tahun 2019. Pada Januari hingga September 2020 tercatat sebanyak 184 ton atau senilai Rp15,1 miliar.

“Namun 90 persen hasil produksi tersebut berasal dari udang hasil tangkap yang saat ini jumlahnya cenderung menurun. Adapun, udang budidaya hanya menyumbang 10 persen disebabkan keterbatasan kapasitas pengembangan oleh komunitas,” imbuhnya.[olpah/risanta]

loading...

Posting Komentar

0 Komentar