Ajak Petani Kapuas Kuala Bijak Gunakan Pestisida Nabati, BBPP Binuang Gelar Pelatihan 3 Hari

KUALA KAPUAS, MK - Untuk terus menjaga ketersediaan pangan terutama beras, pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan kebijakan. 

Salah satu program yang sedang digalakkan di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas adalah menjadikan wilayah tersebut sebagai lumbung pangan baru bagi Indonesia, atau dikenal dengan program Food Estate.

Pada umumnya petani di wilayah sasaran program Food Estate bertanam hanya 1 kali setahun (IP 100) dengan  menggunakan varietas lokal. 

Melalui program Food Estate, pemerintah akan menggenjot produksi dan produktivitas padi melalui intensifikasi lahan dengan meningkatkan indeks pertanaman dan optimalisasi pemanfaatan lahan yang belum tergarap.

Peningkatan indeks pertanaman hanya dapat dilakukan jika bertanam menggunakan varietas padi unggul yang berumur genjah. Tentu saja, pemilihan varietas yang dipilih juga yang tahan dan toleran terhadap serangan hama dan penyakit. 

Hal ini karena pertanaman padi yang intensif secara alamiah akan memberikan kesempatan kepada hama dan penyakit untuk dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, karena tersedianya sumber inang dan makanan sepanjang tahun. 

Dampak penyerta adalah kecenderungan akan meningkatnya penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian hama dan penyakit yang menyerang pertanaman padi.

Untuk mengantisipasi penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, maka Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang mengadakan Pelatihan Tematik Budidaya Padi Lahan Rawa bebas Residu, Sabtu (17/10/2020)

Pelatihan dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kapuas Kuala, Kabupaten Kapuas selama tiga hari, 15 hingga 17 Oktober 2020. 

Peserta berjumlah 30 orang, terdiri dari petani anggota Kelompok Tani yang menerima Program Food Estate, Penyuluh Pertanian dan Babinsa se-Kecamatan Kapuas Kuala. Sedang narasumber dari BBPP Binuang dan Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas. 

“Dalam pelatihan disampaikan materi mengenai program Food Estate, klasifikasi jenis dan bahan pestisida, bagaimana melakukan identifikasi OPT padi dan musuh alaminya serta membuat pestisida nabati dan PGPR," jelas Adi Widiyanto, Koodinator Akademik.

Menurutnya, petani sedari awal harus diingatkan bahwa sebelum sampai pada penggunaan pestisida kimia ada alternatif bahan-bahan alam yang dapat digunakan untuk mengendalikan atau mencegah serangan hama dan penyakit  dengan dibuat menjadi pestisida nabati.

"Petani harus menyadari bahwa penggunaan pestisida kimia adalah langkah akhir. Itupun harus digunakan secara bijaksana, tepat bahan, tepat sasaran, tepat dosis dan tepat waktu,” pungkas Adi.[advertorial]

Penulis : Adi Widiyanto

loading...

Posting Komentar

0 Komentar