Pemkab Kapuas Bahas Penetapan 7 Cagar Budaya, Ada Mozaik Gereja Langka hingga Harmonium Swiss

Pemkab Kapuas Bahas Penetapan 7 Cagar Budaya, Ada Mozaik Gereja Langka hingga Harmonium Swiss

WABUP Kapuas Dodo  membuka secara resmi Sidang Penetapan Cagar Budaya Kabupaten Kapuas 2026.| foto : istimewa

KUALA KAPUAS - Tujuh objek bersejarah di Kabupaten Kapuas selangkah lagi menyandang status cagar budaya resmi. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah mozaik Gereja Mandomai, koleksi langka yang disebut-sebut hanya ada sedikit di dunia.

​Status hukum benda-benda bersejarah ini digodok dalam Sidang Penetapan Cagar Budaya Kabupaten Kapuas 2026. Pertemuan berlangsung selama tiga hari, 16–18 Juli 2026, di Ruang Rapat Rumah Jabatan Bupati Kapuas.

​"Tahun ini ada tujuh objek yang kami bahas," ujar Plt Kepala Disparbudpora Kapuas, Budi Kurniawan, Kamis (16/7/2026).

​Budi merinci, objek tersebut terbagi dalam kategori bangunan dan benda. Untuk bangunan, ada Rumah Hai Amos Akaya dan Rumah Segitiga di Mandomai. 

Sementara kategori benda didominasi peninggalan gereja purba, mulai dari harmonium Swiss/Jerman, terompet gereja, peralatan perjamuan, sakristi Makam Misionaris C.C. Hendrich, hingga mozaik langka Gereja Mandomai.

​Sidang ini digelar sebagai jembatan menuju Registrasi Nasional Cagar Budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang dipimpin Dr. Ida Bagus Putu Prajna Yogi dari BRIN dikerahkan langsung untuk melakukan validasi.

​Namun, jalan penyelamatan sejarah ini tidak mulus. Budi mengakui ada kendala nyata di lapangan. Pemerintah daerah belum memiliki tempat penyimpanan layak untuk benda bersejarah milik warga. Masalah administrasi lahan di Situs Kuno Bataguh seluas lima hektare juga belum tuntas. Ditambah lagi, peninggalan sejarah di kawasan Kota Baru mendesak untuk diselamatkan.

​"Makanya, kami minta camat dan kades ikut aktif mendata. Jangan sampai aset sejarah kita hilang begitu saja," tambah Budi.

​Saat membuka kegiatan, Wakil Bupati Kapuas, Dodo, menegaskan pelestarian ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan soal menjaga identitas daerah.

​"Cagar budaya ini harus kita jaga bareng-bareng. Kenalkan ke anak sekolah dan mahasiswa. Jadikan ini tujuan wisata," kata Dodo saat membacakan sambutan tertulis Bupati Kapuas, H. Muhammad Wiyatno.[zulkifli]
Lebih baru Lebih lama