​Gandeng Program INKLUSI, Ponpes Berkat Ikhlas Kapuas Bentengi Santri dari Pergaulan Berisiko

​Gandeng Program INKLUSI, Ponpes Berkat Ikhlas Kapuas Bentengi Santri dari Pergaulan Berisiko

KEGIATAN MPLPP Pontren Berkat Ikhlas sekaligus sosialisasi Program INKLUSI Lakpesdam PBNU dan PC Fatayat NU.| foto : istimewa

KUALA KAPUAS - Pondok Pesantren Berkat Ikhlas Kuala Kapuas mengambil langkah tegas untuk membentengi santri baru dari ancaman pergaulan bebas. Khawatir dengan maraknya pergaulan berisiko yang memicu pernikahan dini, pihak pesantren resmi menggandeng Program INKLUSI Lakpesdam PBNU dan PC Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kapuas.

​Langkah preventif ini langsung diintegrasikan dalam Masa Pengenalan Lingkungan Pondok Pesantren (MPLPP) Tahun Ajaran 2026/2027, Selasa (14/7/2026). Para santri baru tidak hanya dijejali ilmu agama, tetapi juga dipersenjatai dengan pemahaman tentang pergaulan sehat dan perlindungan anak.

​Kolaborasi Lawan Pernikahan Dini ​Pondok pesantren kini menghadapi tantangan sosial yang makin kompleks. Urusan membimbing santri bukan lagi sekadar soal fikih dan akidah, melainkan juga respons nyata terhadap realitas di luar tembok pesantren.

​Dalam sesi yang dikemas interaktif, tim Fatayat NU mengupas tuntas bahaya perkawinan anak. Mereka juga membedah cara bijak bermedia sosial yang selaras dengan nilai Islam.

​Pengasuh Pondok Pesantren Berkat Ikhlas, KH. Parhani, menegaskan bahwa pesantren tidak boleh menutup mata dari realitas sosial remaja hari ini.

​"Kami punya tanggung jawab moral. Santri harus berilmu dan berakhlak, tapi mereka juga harus bisa menjaga diri di masyarakat. Makanya, edukasi pergaulan sehat ini penting. Ini bekal agar mereka bisa mengambil keputusan yang bertanggung jawab untuk masa depannya, sesuai tuntunan agama," ujar KH. Parhani di sela-sela kegiatan.

​Gerakan bersama ini dinilai sebagai amunisi kuat untuk menekan angka pernikahan anak di daerah. Lembaga pendidikan berbasis agama punya pengaruh besar dalam mengubah pola pikir generasi muda.

​Field Coordinator Program INKLUSI Kabupaten Kapuas, Aulia Pusfita Sari, mengapresiasi keterbukaan pihak pesantren.

Menurutnya, menyelamatkan masa depan anak-anak tidak bisa dilakukan sendirian.

​"Terima kasih untuk Pesantren Berkat Ikhlas yang sudah membuka pintu buat kami. Masalah perkawinan anak ini tidak bisa diselesaikan satu pihak saja, butuh gotong royong. Pesantren punya peran raksasa untuk membentuk karakter anak muda. Kami ingin para santri ini berani menjaga diri, lanjut sekolah, dan menata masa depan mereka matang-matang," kata Aulia.

​Selama kegiatan, suasana hidup lewat diskusi dua arah. Para santri diajak blak-blakan mengenai batasan interaksi, etika digital, hingga dampak buruk pernikahan dini terhadap kesehatan dan pendidikan mereka.[rl/zulkifli]
Lebih baru Lebih lama