BARABAI - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), resmi memulai pelatihan strategis bertajuk Leading with Trust, Teaching with Impact sebagai upaya konkret mentransformasi paradigma pendidikan berbasis dampak nyata di Pendopo Bupati HST, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Whole System Transformation ini dijadwalkan berlangsung hingga 25 April 2026 dengan melibatkan ratusan tenaga pendidik. Melalui kolaborasi antara kepemimpinan yang tepercaya dan metode pengajaran yang efektif.
Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah optimistis dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter unggul.
Fokus utama pelatihan ini adalah menggeser peran kepala sekolah dari sekadar pengelola administrasi menjadi penggerak budaya kerja, serta mendorong guru untuk menciptakan pembelajaran yang sepenuhnya berpusat pada siswa.
“Kegiatan ini memiliki empat tujuan utama, yaitu penguatan kepemimpinan berbasis kepercayaan, peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran aktif, penyusunan strategi berdampak, hingga penghasilan School Impact Action Plan yang siap diterapkan,” lapor Sekretaris Dinas Pendidikan, Salihin.
Dalam laporannya, ia menekankan bahwa keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada kemampuan peserta dalam menyusun rencana aksi yang aplikatif di lingkungan sekolah masing-masing.
“Transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri; dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen agar tercipta sinergi antara kepemimpinan dan praktik mengajar yang berkualitas,” tutur Asisten I Bidang Pemerintahan, H. Ainur Rafiq, saat membacakan sambutan Bupati HST.
Ia, menegaskan bahwa sumber daya manusia dan kepemimpinan yang kuat adalah fondasi utama yang jauh lebih krusial dibandingkan sekadar pembangunan infrastruktur fisik.
“Ukuran keberhasilan kita ini ada pada yang terjadi di murid; banyak sekolah punya banyak program, tapi bagaimana dengan dampaknya?” ujar narasumber nasional, Kandidat Dr. Rian Octa Pratama.
Praktisi pendidikan tersebut mengajak para pendidik untuk berani mengevaluasi efektivitas setiap program yang dijalankan agar benar-benar memberikan manfaat bagi siswa.
“Saya tidak mau menambah beban Bapak/Ibu, justru kita potong yang tidak penting; cukup satu program unggulan yang difokuskan dengan benar, itu sudah cukup mengubah nasib sekolah,” jelas Chief Technology Officer Lentera Reformasi
Rian menekankan pentingnya simplifikasi program agar energi para pendidik tidak habis pada urusan yang kurang esensial, melainkan fokus pada kualitas pembelajaran di kelas.
“Transformasi pendidikan harus mampu mengubah kualitas pembelajaran nyata di kelas, bukan sekadar menjalankan agenda rutin,” tegas Rian Octa
Ia berharap momentum ini menjadi titik balik bagi para pengawas dan kepala sekolah untuk berperan sebagai pemimpin yang melayani, bukan sekadar bertindak sebagai auditor formalitas.
“Diharapkan lahir berbagai praktik baik di sekolah, manajemen yang lebih solid, serta pembelajaran yang lebih bermakna demi melahirkan generasi HST yang cerdas, berkarakter, dan siap bersaing di masa depan,” pungkas Ainur Rafiq.[nata]
