PALANGKA RAYA – Arus distribusi hasil tangkapan laut dari Provinsi Kalimantan Tengah hingga saat ini masih didominasi pengiriman ke luar daerah.
Kalimantan Selatan menjadi salah satu tujuan utama pemasaran, terutama melalui jalur perbatasan Kabupaten Pulang Pisau.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa komoditas perikanan dari Kalteng lebih banyak dipasarkan lintas wilayah dibandingkan dipasarkan dan diolah di dalam daerah sendiri.
Kondisi ini terjadi dalam aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dan nelayan yang berlangsung secara berkelanjutan.
Akibat dominasi distribusi keluar daerah tersebut, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan dinilai belum optimal. Padahal, sektor perikanan di Kalimantan
Tengah memiliki potensi produksi yang cukup besar dan dapat menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.
Pemerintah daerah mengakui bahwa kondisi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi.
Optimalisasi rantai distribusi dan penguatan pasar lokal dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi di daerah.
Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah, menilai bahwa fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang wajar terjadi di lapangan.
Ia menyebutkan bahwa nelayan cenderung memilih jalur distribusi yang memberikan keuntungan lebih tinggi.
“Ini merupakan mekanisme pasar yang berjalan rasional, dipengaruhi oleh pertimbangan harga, akses, dan efisiensi distribusi,” ujar Siti Nafsiah, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, perbedaan harga jual serta kemudahan akses pasar menjadi faktor utama yang mendorong hasil tangkapan lebih banyak dikirim ke luar daerah, terutama ke Kalimantan Selatan yang memiliki jaringan distribusi lebih kuat.
"Ke depan, diperlukan penguatan sistem tata niaga perikanan di Kalimantan Tengah agar hasil tangkapan nelayan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi daerah, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap PAD secara berkelanjutan," pungkasnya.[deni]
Tags
DPRD kalteng
