Masihkah Diburu? Nasib Kue Basah Tradisional di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian dan Promo Online

Masihkah Diburu? Nasib Kue Basah Tradisional di Tengah Gempuran Kuliner Kekinian dan Promo Online

ilustrasi.| dok.metrokalimantan
Penulis : Zulkifli

AROMA pandan dan gurih santan lebih dulu menyapa sebelum mata menemukan wujudnya. Sore itu, di ruas Jalan Barito, Jalan Anggrek, hingga Jalan Teratai, loyang-loyang berisi Amparan Tatak, Sari Muka, Lapis India, dan Kararaban berkilau diterpa cahaya lampu jalan. Warna hijau daun, kuning telur, dan cokelat gula merah berbaris rapi, seolah siap menyempurnakan momen berbuka warga Kota Air.

​Namun, Ramadan 2026 menghadirkan suasana yang berbeda. Riuh antrean yang dahulu beberapa tahun silam mengular dan meludeskan dagangan sebelum beduk Magrib, kini tak lagi sedahsyat dulu. Denyut pasar takjil konvensional tampak melambat.

​Di hari ketiga Ramadan, Abdul masih setia duduk di balik lapaknya di Jalan Barito. Di samping sang istri, ia memandangi sisa kira-kira tiga loyang kue yang belum terjual dari enam loyang yang dibawanya sejak siang.
“Kalau dahulu, awal Ramadan begini, sebelum beduk sudah habis,” ucapnya pelan.

​Perubahan itu bukan tanpa sebab. Kue basah tradisional, warisan lintas generasi ini, kini berada di persimpangan. Di satu sisi, ia menyimpan identitas dan kenangan. Di sisi lain, ia harus bertarung dengan dessert box yang viral di media sosial serta kepraktisan aplikasi pesan antar yang hanya memerlukan satu sentuhan layar tanpa perlu keluar rumah.

​Demi menyiasati kondisi pasar yang lesu, Abdul terpaksa memainkan strategi harga. Jika sebelum berbuka satu potong dijual Rp13 ribu, menjelang malam ia menurunkannya menjadi Rp10 ribu. “Daripada tidak laku, lebih baik tipis untungnya,” imbuh pria paruh baya itu.

​Keluhan serupa datang dari pedagang lain di kawasan yang sama. Dagangan yang dulunya nyaris tak pernah tersisa, kini kerap harus dibawa pulang kembali.

Lain lagi yang diungkapkan ​Afiz, seorang warga Kapuas yang aktif di media sosial, mengakui adanya pergeseran perilaku konsumen. “Sekarang lebih sering beli lewat sistem Pre-Order (PO) atau aplikasi. Praktis, tidak perlu turun ke jalan, pilihannya juga banyak dan kemasannya lebih kekinian,” ujarnya.

​Gempuran kuliner modern dengan promosi influencer memang menjadi tantangan nyata. Meski demikian, tidak semua pedagang tradisional tergerus zaman. Mereka yang sudah menyandang status “legend” dan konsisten menjaga keaslian cita rasa, terbukti tetap memiliki pelanggan setia yang tak berpaling ke lain rasa.

​Di balik tantangan itu, geliat adaptasi mulai terlihat. Sejumlah pelaku UMKM kue tradisional kini mulai cerdik memanfaatkan teknologi. Mereka menerapkan sistem pesan antar melalui WhatsApp dan promosi di Instagram untuk memastikan produksi sesuai dengan jumlah permintaan, sehingga risiko kerugian bisa ditekan.

​Strategi digital menjadi jalan tengah untuk menjembatani tradisi dengan teknologi. Sebab, ada satu hal yang sulit ditandingi oleh kuliner kekinian mana pun, memori.
​Sepotong Bingka Kentang atau semangkuk Bubur Sumsum bukan sekadar takjil pelepas lapar. Ia adalah penghubung masa kecil dan aroma rumah yang selalu dirindukan setiap kali Ramadan tiba.

​Upaya menjaga eksistensi ini juga mendapat sokongan dari Pemda Kapuas. Melalui penyediaan lapak gratis di Jalan Patih Rumbih (samping Stadion), depan City Mall Jalan Pemuda, hingga kawasan Bukit Ngalangkang di Jalan Soeprapto, pemerintah daerah berupaya memberi ruang napas bagi pedagang tradisional agar tetap bertahan di tengah arus modernisasi.

​Kue basah bukan sekadar panganan, ia adalah identitas kolektif masyarakat. Meski loyang-loyang di Jalan Barito tak lagi secepat dulu menjadi kosong, keberadaannya menandakan bahwa di tengah serbuan makanan instan, masyarakat masih menjejakkan kaki pada rasa yang diwariskan leluhur.

​Ramadan tahun ini bukan hanya tentang panen rezeki, melainkan tentang bertahan dan berbenah. Harapannya, Sari Muka, Amparan Tatak, hingga Kararaban tetap menemukan tempat spesial di hati generasi yang tumbuh besar bersama layar sentuh.[]
Lebih baru Lebih lama