Musim Tanam Padi Apsep Pelaihari Capai 1.011 Hektare

PELAIHARI, MK - Musim tanam padi April - September (Apsep) di wilayah Kecamatan Pelaihari hingga saat ini mencapai 1.011 hektare. Angka ini turun 3.432 hektare dibanding musim tanam sebelumnya yang seluas sekitar 4.443 hektare. 

Tukirin, Mantri Tani Sniper Kostratani Kecamatan Pelaihari, Minggu (14/6/2020) mengatakan, penurunan luas tanam dari MT Oktober - Maret ke MT April - September, merupakan hal yang biasa karena MT April - September  adalah bulan-bulan lebih kering.

Namun, lanjutnya, bukan berarti lahan tidak ditanami sama sekali. Di beberapa desa pada MT April - September ini, petani tanam jagung dan hortikultura sayuran. Jagung saja di kecamatan pelaihari MT ini mencapai 2249 hektare.  

Jagung sebagai tanaman pangan kedua setelah padi, cocok diusahakan di musim kering. Risiko terhadap cekaman kekeringan lebih kecil dibanding padi. Jagung juga sudah punya pasar dengan adanya PT Comfeed. 

Input sarana produksi mudah didapatkan dan minat animo petani terhadap jagung sangat besar. Akan tetapi, tidak semua lahan yang tidak ditanami padi lalu ditanami jagung. 

Pada musim kering ini di beberapa lahan tidak bisa ditanami padi dan jug  tidak semua lahan bisa diusahakan. Ada keterbatasan air sehingga petani tidak mau ambil resiko, ada yang diberakan. 

"Wajar kalau kemudian luas tanam padi musim ini berkurang," tutur Tukirin.

Ia memaparkan, padi yang sudah ditanam pada MT April - September ini tersebar di 6 desa, dengan jumlah petani sebanyak 850 KK yang tergabung dalam 34 Poktan. Varietas dominan adalah Mikongga, Inpari 30 dan Inpari 32.

Saat ini, rata-rata padi masih berumur 4 sampai 8 minggu setelah tanam. Artinya masa tanam padi dilakukan serentak dalam kurun waktu 4 minggu. Diperkirakan masa panen akan jatuh bulan Juli - Agustus.

Target produktivitas rata-rata 4,5 ton per hektare. Jika tercapai target maka diperkirakan Kecamatan Pelaihari akan dapat memberikan konstribusi produksi sebanyak 4549,5 ton GKP untuk mendukung ketersediaan pangan di masa pandemi ini. 

Ditanya tentang permasalahan yang mungkin dihadapi, Tukirin menyebut musim kering yang mungkin ekstrim. Musim kering yang ekstrim akan berdampak pada kondisi semau tanaman tidak hanya padi. 

Kondisi buruk yang mungkin terjadi itu akan menjadi perhatian para petugas agar dampak yang ditimbulkan tidak berpengaruh secara nyata dengan melakukan tindakan-tindakan antisipasi. 

Salah satunya dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada di sungai atau embung dan menaikkannya dengan pompa air.

"Untuk mengantisipasi musim kering sudah dipersiapkan mesin pompa air, ada sekitar 45 unit untuk memanfaatkan air yang sumbernya  sungai dan embung," ungkapnya.

OPT berupa ulat penggerek batang juga menjadi selalu masalah, baik pada padi maupun jagung karena seperti biasanya di MT April - September hama ini lebih banyak muncul. 

Oleh karena itu, Tukirin selaku Mantri Tani dan petugas penyuluh meminta petani melakukan pengamatan secara intensif. Pengamatan yang rutin sebagai bentuk kewaspadaan yang jika diketemukan segera dapat dikendalikan atau dilaporkan kepada petugas.  

"Saya dorong petani untuk melakukan pengamatan dan bila ada tanda serangan dilaporkan ke POPT. Pokoknya kalau ada gangguan OPT kita kerjasama dengan POPT. Semoga saja tidak ada gangguan yang berarti," pungkas Tukirin.[advertorial]
loading...

Posting Komentar

0 Komentar