RSUD Kapuas Gencarkan Edukasi Diabetes, Lansia Diajak Kenali Gejala dan Cegah Komplikasi

RSUD Kapuas Gencarkan Edukasi Diabetes, Lansia Diajak Kenali Gejala dan Cegah Komplikasi

PENYULUHAN – Tim Perawat Geriatri dan Promkes RSUD Kapuas memberikan edukasi kesehatan kepada lansia tentang pengendalian diabetes,| foto : istimewa

KUALA KAPUAS – RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kabupaten Kapuas menggencarkan edukasi kesehatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap diabetes melitus. Melalui penyuluhan yang menyasar pasien rumah sakit dan puskesmas, masyarakat diajak mengenali gejala hingga mencegah komplikasi penyakit kencing manis, khususnya pada lansia.

Edukasi tersebut menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam dr. Ida Swasty, Sp.PD, didampingi Tim Perawat Geriatri dan Tim Promosi Kesehatan (Promkes) RSUD Kapuas.

Direktur RSUD Kapuas, dr. Adelinae, mengatakan penyuluhan ini merupakan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan sekaligus mencegah diabetes sejak dini.

"Dengan adanya penyuluhan kesehatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami tentang penyakit diabetes dan pentingnya menjaga kesehatan," kata Adelinae, Senin (2/11/2026).

Dalam penyuluhan tersebut, dr. Ida menjelaskan diabetes melitus merupakan penyakit kronis akibat meningkatnya kadar gula darah. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif atau tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup.

Dia memaparkan, diabetes terbagi menjadi tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 umumnya muncul pada usia muda akibat kerusakan sel beta pankreas sehingga penderitanya membutuhkan insulin dari luar tubuh. Sementara tipe 2 lebih sering ditemukan dan berkaitan dengan resistensi insulin serta gangguan produksi insulin secara bertahap.

Masyarakat juga diminta mengenali gejala awal diabetes. Tiga tanda yang umum muncul adalah sering buang air kecil, cepat lapar, dan mudah haus.

Gejala lainnya meliputi penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kesemutan, penglihatan kabur, cepat lelah, mudah mengantuk, hingga luka yang sulit sembuh.

Diabetes yang tidak terkontrol juga berisiko menyebabkan gangguan saraf pada kaki. Penderitanya dapat mengalami sensasi terbakar, kehilangan kemampuan merasakan sentuhan, bahkan mengalami luka tanpa disadari.

Untuk mengendalikan penyakit tersebut, pengaturan pola makan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Lansia dianjurkan makan teratur, memperbanyak makanan berserat, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak jenuh, serta memilih sayuran dan buah dengan indeks glikemik rendah.

Aktivitas fisik juga perlu dilakukan secara rutin sesuai kondisi tubuh. Jalan santai, bersepeda, senam lansia, dan yoga menjadi beberapa pilihan olahraga yang dapat dilakukan. Target aktivitas fisik yang dianjurkan sekitar 150 menit dalam sepekan, dengan tetap memperhatikan keamanan saat berolahraga.

Selain itu, senam kaki diabetes turut diperkenalkan sebagai latihan untuk membantu melancarkan peredaran darah dan menjaga kekuatan otot kaki. Gerakannya meliputi mengangkat tumit, menekuk dan meluruskan kaki, memutar pergelangan, hingga mencengkeram dan meluruskan jari-jari kaki.

RSUD Kapuas mengingatkan masyarakat agar melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala, mematuhi terapi pengobatan, dan menjaga pola hidup sehat. Langkah tersebut diharapkan membantu lansia tetap aktif, mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.[zulkifli]
Lebih baru Lebih lama